Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara : OHEO (Part 3)

CERITA RAKYAT DAERAH SULAWESI TENGGARA 
Di Kota Kendari

OHEO 

(Kisah seorang laki-laki jejaka benama oheo penghuni bumi ini kawin dengan salah seorang dari 7 bidadari dari kayangan). (Part 3)

Setelah malam muncullah sekawan babi datang menggali batu besar itu. Pada waktu tengah malam, batu sudah mulai miring akan jatuh. Pagi-pagi buta ia pergi merebahkan batu itu. Sesudah ia merebahkannya, lalu ia kembali menyampaikan ke­pada baginda bahwa batu besar itu telah ditumbangkannya. Lalu baginda berkata lagi, ’’Beritahukan kepadanya, jangan se­kali-kali dia langsung naik ke dalam istana, kecuali ia mampu dengan menggunakan Burulae = tunas tumbuhan sejenis lengkuas untuk melempari gunung itu hingga tembus.”

Sementara Oheo berputus asa, datanglah seekor tikus menanyakan tentang hal ikhwalnya. Lalu ia mulai menceritakarmya, bahwa ia disuruh oleh baginda melempar gunung dengan Burulae. sampai tembus di sebelahnya. Tikus berkata, ”He, mudah saja, nanti malam kami datang melubangi gunung itu,” Tidak terbilang banyaknya tikus yang datang untuk melubangi gunung. Pada waktu hampir siang, tinggal beberapa dim saja yang belum tertembus ke sebelah gunung itu. Tikus pergi memberitahukannya, supaya pada paginya Oheo melempar saja pasti sudah akan tembus. Setelah pagi, Oheo mengambil Burulae dan melemparkannya. Maka tembuslah di sebelah gunung itu.

Baginda bersabda, ’’Jangan sekali-kali ia langsung naik ke dalam istana; Itu satu bakul benih padi, turunlah dan kalian tuangkan di padang rumput, dan ia harus memunguti dan memasukkan kembali ke dalam bakul itu, sebutir pun tidak ada yang terbuang.” Selagi Oheo berputus asa, datang seekor burung pipit menanyakan tentang kesusahannya itu. Dia menceritakannya bahwa baginda menyuruh dia mengikuti kembali benih padi yang dituangkan di padang rumput, sebutir pun tak boleh ada yang terbuang. Berkata burung pipit itu, ”He, hal yang mudah saja itu, mulailah pungut; Saya kembali dulu panggil kawan-kawanku.”

Dalam sekejap mata, muncullah sekawan burung pipit lang­sung mencotok benih padi itu. Matahari baru sedang naik telah selesai mereka pungut kembali benih itu. Lalu Oheo kem­bali menyodorkan ke istana benih padi yang telah di pungut itu. Kembali baginda bersabda, ’’Kalian beritahukan kepada Oheo jangan ia langsung naik ke dalam istana, masih ada lagi satu bakul jagung, kalian turun dan tumpahkan ke padang rumput, dia harus memunguti kembali, sebiji pun tidak boleh ada yang hilang.”

Oheo kembali bersusah hati. Sedang dia duduk termenung memikirkan nasibnya itu, datang pula seekor burung tekukur menanyakan tentang kesusahannya itu. Kata Oheo, ”Saya disuruh oleh baginda memungut kembali jagung yang dituangkan di padang rumput, tetapi sebiji pun tak ada yang terbuang.” Burung tekukur itu menjawab, ”Hei, hal yang mudah saja itu, mulailah pungut, saya kembali dulu panggil kawan-kawanku untuk datang membantumu.”

Tidak berapa lama kemudian, datanglah mereka langsung mencotok jagung itu. Sekejap mata saja telah penuh kembali bakul itu. Oheo menyodorkan bakul itu ke istana. Baginda bersabda, ’’jangan ia langsung naik, masih ada pula satu bakul woto (biji seperti biji sawi sejenis tanaman), kalian turun dan tuangkan woto itu di padang rumput, ia harus nemunguti dan memasukkan kembali ke dalam bakul itu, tetapi satu biji pun tidak boleh ada yang terbuang.”

Oheo kehabisan akal. Sementara itu ia sedih memikirkan hal itu, tiba-tiba muncul seekor burung puyuh bertanya kepadanya, ”Hai, Oheo, mengapa engkau nampaknya bersedih hati.” Oheo berkata, ”Hai kawan, biarpun saya menceritakan kepadamu, engkau tidak akan dapat mengerjakannya.” Jawab burung puyuh, ’’Oheo, walaupun saya tidak akan mampu mengerjakannya, cobalah engkau ceritakan, saya ingin mendengarkannya.” Berkata Oheo, ’’Baginda menyuruh saya memungut kem­bali sebakul woto yang dituangkan di padang rumput, tetapi tidak boleh ada yang hilang sebiji pun.”

Burung puyuh itu menjawab, ’’Kusangka suatu pekerjaan yang berat, pada hal hanya memungut woto saja, sudah kau susahkan; tunggu, saya pergi panggil kawan-kawanku, kami datang membantu memungutnya.” Setelah berkata demikian lalu burung puyuh itu terbang pergi memanggil kawan-kawannya. Tidak seberapa lamanya kemudian, muncullah sekawan burung puyuh, langsung mencotok woto itu, sambil memasukkan kembali ke dalam bakul. Sekejap saja sudah penuh kembali bakul itu. Sebiji pun tidak ada yang terbuang. Lalu Oheo kembali menyodorkan bakul itu pada pintu istana. Bertitah Baginda, ’’Oheo, naiklah masuk ke dalam istana”.

Oheo naik dan ia terus duduk. Baginda datang mengantarkan tujuh buah palako yaitu tempat sirih yang dibuat dari kuningan. Hanya sebuah yang berisi. Sabda Baginda, ”Ini ada tu­juh buah tempat sirih, hanya satu buah yang berisi, kalau eng­kau tepat membuka yang ada isinya, maka engkau boleh bertemu kembali dengan istrimu.”

Oheo kembali berputus asa memikirkan bagaimana caranya supaya ia tepat kena membuka tempat sirih yang berisi itu. Sementara ia berputus asa, datang seekor lalat menanyakan apa yang disusahkannya. Oheo berkata, ”Saya makan sirih te­tapi saya tidak mengetahui tempat sirih yang mana ada isinya.” Lalat berkata, ’’Lihatlah saya terbang di mana saya hinggap, itulah tempat sirih yang berisi.”

Lalat itu terbang, sementara Oheo mengikuti terus dengan matanya. Lalat itu langsung hinggap pada tempat sirih yang terletak paling tengah di antara ketujuh buah tempat sirih itu. Oheo terus berdiri pergi membuka tempat sirih itu, lalu dia mulai makan sirih. Setelah ia selesai makan sirih, lalu baginda bersabda lagi. ’’silahkan makan, ada berjejer tujuh buah talam tertutup, hanya satu yang ada isinya. Kalau tepat engkau membu­ka talam yang berisi, engkau boleh bertemu kembali dengan istrimu.”
Cerita Rakyat : OHEO
Cerita Rakyat : OHEO

Baca Juga :

No comments:

Post a Comment